
Pendidikan sering kali dipersempit maknanya sebagai jalan menuju pekerjaan. Jika ditelusuri lebih jauh, sejarah menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya memiliki tujuan yang jauh lebih luhur.
Pada mulanya, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang merdeka dalam berpikir, berperasaan, dan bertindak.
Pendidikan bukan sekadar proses memperoleh ijazah atau keterampilan teknis, melainkan perjalanan panjang untuk menumbuhkan akal budi.
Hal ini bisa ditelusuri secara histori, di mana Istilah sarjana dalam bahasa Inggris disebut bachelor di universitas-universitas tertua Eropa seperti Oxford dan Paris.
Pada masa itu, untuk mendapatkan bachelor degree, seseorang harus menempuh pendidikan yang disebut liberal arts.
Kata liberal berasal dari liberty, yang berarti kebebasan. Pendidikan ini dirancang bukan untuk menyiapkan seseorang bekerja, melainkan untuk membentuk manusia yang berpikir bebas.
Dalam tradisi liberal arts, pelajaran pertama bukanlah matematika, fisika, atau biologi, melainkan retorika, logika, dan tata bahasa.
Retorika mengajarkan cara berbicara dan menyampaikan gagasan dengan jelas dan meyakinkan. Logika melatih kemampuan berpikir runtut dan kritis, sedangkan tata bahasa menata cara berbahasa agar pikiran dapat tersusun dengan baik.
Tiga hal ini menjadi fondasi agar manusia terdidik mampu berpikir jernih, mengolah gagasan, dan berdialog dengan orang lain secara beradab.






















Comment