by

Editorial: Copras Capres dalam Pesona Pencitraan

Pilpres (ilustrasi)

Meski Pemilihan Presiden (Pilpres) terbilang masih lama, para bakal calon yang digadang-gadang ikut dalam kontestasi Pilpres RI 2024, terlihat sudah mulai sibuk mematut diri. Aneka macam dan ragam cara disajikan pada publik. Masih efektifkah cara ini?

Dailymakassar.id – EDITORIAL. PILPRES rencananya bakal dilangsungkan di tahun 2024 mendatang. Artinya, perhelatan memilih calon orang nomor 1 di republik ini masih cukup jauh. Namun gaung Pilpres sudah mulai terdengar nyaring. Beberapa survei awal telah diluncurkan dan para kandidat bakal calon sudah mulai menyembul keluar.

Intensitas model penghadiran (baca: pencitraan) para bakal calon semakin hari semakin dinamik. Gaya pesan yang ingin disampaikan ke publik pun makin gencar dan beragam. Namun bila dirangkum dalam satu frasa pendek, semuanya bermuara pada model: “Merakyat”.

Barangkali, fenomena pesona gaya ala Presiden Jokowi memang masih sangat membekas dalam pada setiap bakal calon. Cara ini masih dinilai efektif dalam komunikasi politik di Indonesia. Model pemimpin yang “tanpa sekat”, “sederhana” dan “merakyat” masih diyakini sebagai cara ampuh merebut simpati rakyat.

Dalam konteks itu, timbul pertanyaan, apakah cara ini secara simultan bisa mengedukasi rakyat dalam berpolitik? Apakah pendidikan demokrasi ada dalam model semacam itu?

Suara miring tentang model pencitraan para bakal calon dengan gaya semacam itu berseliweran. Memang pencitraan dalam jagat poltik Indonesia telah mengalami semacam pemaknaan negatif. Degradasi pemaknaan tersebut semakin menguat karena pada umumnya politisi kita hanya mengambil momentum pemilu untuk mendekati rakyat. Selebihnya, mereka masih ‘berpijak’ di ‘menara gading’ yang sangat berjarak. Hanya menyajikan ‘kamuflase’ untuk sebuah kepentingan kekuasaan semata.

Mungkin memang penilaian di atas terbilang berlebihan. Namun, jangan lupa, politik adalah persepsi. Dan persepsi tidak terbentuk dari ruang kosong ‘tabula rasa’. Persepsi terbentuk dari pengalaman dan persentuhan emosional rakyat dengan calon pemimpinnya. (Redaksi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *