Editorial: Dunia di Ambang Krisis Pangan

Ilustrasi krisis pangan

Krisis pangan kini menjadi momok yang paling menggetarkan para pemimpin dunia. Tak urung, Presiden Jokowi berkali-kali melontarkan peringatan tersebut pada bawahannya yang mengurus sektor pangan di negeri ini.

Dailymakassar.id – EDITORIAL. PADA akhirnya, pangan memang menjadi sebuah persoalan yang jangan dibuat main-main. Pemenuhan kebutuhan hidup yang lain mungkin bisa kita berhela sejenak. Namun untuk urusan pangan, jangan berharap ada penundaan.

Saat ini, ancaman krisis pangan kembali menghantui dunia. Sorotan terhadap potensi krisis tersebut telah digaungkan oleh berbagai pemimpin dunia, pakar serta lembaga dunia yang care dengan persoalan keberlanjutan ketersediaan pangan dunia seperti Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).

Setidaknya, dari catatan redaksi, ada beberapa faktor yang memicu potensi krisis pangan saat ini.

Pertama, faktor perubahan iklim global yang demikian mencemaskan. Hal ini menjadi pemicu paling signifikan dalam merubah siklus pertumbuhan tanaman pangan. Perubahan iklim yang berdampak pada bencana banjir, kekeringan serta perubahan suhu bumi menjadikan pangan dunia tertatih-tatih dalam produksinya.

Kedua, penggunaan bahan kimia, seperti pupuk kimia pestisida, herbisida menyebabkan komposisi alamiah tanah semakin rusak. Dalam berbagai penelitian yang ada, tercatat tanah untuk tanaman pangan telah mengalami tingkat kerusakan yang parah. Hal ini berdampak pada semakin menurunnya produktifitas tanaman yang berbanding terbalik dengan laju pertumbuhan penduduk dunia yang semakin meningkat pesat.

Ketiga, faktor geopolitik dunia yang semakin lama semakin menjadikan pangan sebagai lahan membangun pengaruh untuk mengendalikan kekuatan dan kekuasaan global.

Sebuah buku menarik karya Paul McMahon dengan judul: “Berebut Makan – Politik Baru Pangan” bisa menjelaskan fenomena global tersebut dengan gamblang.

Memang diperlukan perubahan paradigma secara radikal untuk menyelamatkan dunia dari bencana kelaparan dan krisis pangan. Salah satunya adalah dengan gigih melakukan penyadaran tentang membangun ekosistem pangan berkelanjutan.

Kata kuncinya barangkali adalah kita harus mulai menggunakan bahan baku organik dan hayati untuk mengembalikan fungsi kesuburan tanah dalam ekosistem pangan berkelanjutan. [Redaksi]

Artikel ini didukung oleh:

Comment