Menempa Fisik Membentuk Karakter: Pelajaran Hidup dari Latihan Militer

Menempa Fisik Membentuk Karakter: Pelajaran Hidup dari Latihan Militer

Oleh: Mubha Kahar Muang

BANYAK orang memandang latihan fisik, khususnya latihan militer, hanya sebagai kegiatan menguras tenaga.

Padahal, manfaat terbesarnya justru tidak terlihat dari otot yang semakin kuat, juga dari karakter semakin matang.

Di balik setiap baris-berbaris, latihan ketahanan, dan disiplin ketat, tersimpan proses panjang membentuk mental tangguh, sikap bertanggung jawab, serta kemampuan memimpin.

Latihan fisik yang terarah mengajarkan seseorang untuk menghargai waktu, menaati aturan, bekerja sama dalam tim, dan tetap tenang ketika menghadapi tekanan.

Nilai-nilai inilah kemudian menjadi bekal berharga dalam menjalankan berbagai tugas dan tanggung jawab di tengah masyarakat.

Pengalaman kami menjadi salah satu contoh bagaimana latihan fisik dan mental dapat mengubah arah kehidupan.

Tahun 1976 ketika masih menjadi mahasiswa sekaligus aktivis kampus, kami terpilih mengikuti Kursus Kader Pimpinan Resimen Mahasiswa (Suskapin) tingkat nasional selama tiga bulan bersama 132 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Pelatihan tersebut bukanlah perjalanan mudah. Setiap peserta ditempa melalui latihan fisik yang berat, pendidikan kepemimpinan, pembinaan mental, serta pembentukan disiplin tinggi.

Justru melalui proses itulah kami belajar bila keberhasilan ditentukan oleh siapa yang mampu bertahan, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah.

Atas kerja keras tersebut, kami dipercaya menjadi siswa terbaik. Saat itu Kepala Pusat Kader Cadangan Nasional adalah Bapak Gatot Suwagiyo. Prestasi tersebut bahkan mendapat perhatian nasional.

Harian Minggu Kompas memuat profil kami sepanjang setengah halaman. Wartawannya adalah August Parengkuan yang di kemudian hari dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Italia.

Sekembali ke Sulawesi Selatan, kepercayaan yang lebih besar datang. Kami dipilih oleh Gubernur dan Pangdam untuk menjadi Kepala Staf Resimen Mahasiswa Sulawesi Selatan.

Dari sinilah Resimen Mahasiswa Sulawesi Selatan kembali aktif dan berkembang.

Pelajaran penting yang kami rasakan adalah, latihan militer tidak berhenti ketika seseorang melepas seragam latihan.

Nilai-nilai yang ditanamkan terus melekat dalam setiap langkah kehidupan, bahkan ketika memasuki dunia politik, organisasi, maupun dunia usaha.

Apa yang kami peroleh dalam latihan militer ini kemudian menjadi modal besar dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat yakni tahun 1987 saat kami bergabung dalam membina  Koperasi Pengemudi Taksi Jakarta Raya (Kosti Jaya).

Di sinilah nilai-nilai disiplin, kejujuran, dan kepemimpinan yang ditempa selama latihan benar-benar diuji. Kami dipercaya mengelola koperasi dengan sekitar 3.500 pengemudi taksi sebagai anggota.

Ketika melakukan pengadaan 1.000 unit armada taksi yang dibiayai Bank Bukopin, kami memperoleh komisi dari setiap kendaraan.

Seluruh komisi tersebut tidak kami nikmati secara pribadi. Dana itu sepenuhnya dimasukkan sebagai pendapatan koperasi.

Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli tanah, membangun kantor koperasi tiga lantai, serta mendirikan bengkel di kawasan Pasar Minggu.

Kami menerapkan sistim pengemudi adalah pemilik, atau sistim owner operator. Artinya, kendaraan sebagai alat produksi disiapkan oleh koperasi lalu dioperasikan oleh pengemudi yang kelak menjadi milik pengemudi.

Semua aturan pengelolaan dan keuangan diatur dalam Perjanjian Kredit yang di tanda tangani oleh masing masing pengemudi sebagai calon Peserta Kredit di depan notaris sehingga hak dan kewajiban koperasi dan pengemudi jelas.

Selain mengelola kendaraan taksi, kredit perumahan pengemudi kami juga memberi pinjaman untuk biaya anak sekolah  pengemudi.
Disamping pemberian pinjaman untuk kebutuhan lain keluarga pengemudi.

Setiap pengemudi yang meminjam menandatangani repayment schedule sehingga semua pengemudi tahu berapa kewajiban tambahan dari setoran harian.

Pilihan cara pengelolaan yang mengedepankan disiplin dan putusan yang ditempuh sebagai pimpinan koperasi  yang mengedepankan kesejahteraan anggota menjadi fondasi yang memperkuat organisasi.

Dari pengabdian tersebut, kami memperoleh penghargaan sebagai Tokoh Koperasi DKI Jakarta.

Setelah  pelunasan  kendaraan taksi Kosti Jaya kepada pengemudi, kami juga menerima penghargaan sebagai Nasabah Terbaik Bank Bukopin.

Pengabdian itu kemudian mendapat pengakuan lebih lanjut setelah  menjadikan ribuan pengemudi  sebagai pemilik kendaraan melalui penganugerahan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden Republik Indonesia.

Pada tahun 1995, kami kembali diminta membantu mengembangkan usaha dalam bentuk Perseroan Terbatas dengan tetap mempertahankan semangat koperasi.

Saat itu Ibu Tutut Hardiyanti Rukmana mendirikan perusahaan taksi yang bertujuan membuktikan bahwa perusahaan berbentuk PT tetap dapat dibangun dengan semangat kepemilikan bersama atau koperasi.

Pengelolaan dengan semangat koperasi yang diterapkan pada  perseroan terbatas kemudian terbukti berhasil menjadikan ribuan pengemudi menjadi pemilik kendaraan dimana disiplin dalam pengelolaan menjadi landasan utama.

Melihat kembali perjalanan panjang tersebut, kami semakin meyakini jika keberhasilan bukan semata-mata lahir dari kecerdasan intelektual.

Yang lebih menentukan adalah karakter. Dan karakter tidak dibentuk dalam ruang nyaman yakni melalui proses latihan yang keras, disiplin, dan penuh tanggung jawab.

Karena itu, latihan fisik tidak boleh dipahami sekadar sebagai kegiatan olahraga atau pembinaan kebugaran.

Ia adalah sekolah kehidupan. Dari sana seseorang belajar memimpin sebelum dipimpin, melayani sebelum dilayani, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Bangsa yang ingin memiliki pemimpin jujur, disiplin, dan berintegritas harus memberi ruang bagi generasi mudanya untuk ditempa, baik melalui pendidikan, organisasi, maupun latihan fisik yang membangun karakter.

Ya, tubuh kuat dapat menopang pekerjaan, tetapi karakter kuat akan menentukan bagaimana seseorang menggunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya**

Comment