Editorial: Permainan Kekuasaan

Kursi

EDITORIAL — INI adalah sebuah ritual ‘demokrasi’ lima tahun. Di sana kita memilih -atau seolah-olah- memilih para pemimpin. Di era rezim Orde Baru, peristiwa ini dibingkai dengan istilah “pesta demokrasi”. Namun entah siapa yang berpesta di sana; rakyat atau elite politik atau para avoturir yang dengan jeli menangkap kesempatan untuk meraup pundi-pundi hasil pesta tersebut.

Agaknya, kata pesta demokrasi ini memang sengaja diindotrinasi oleh sebuah rezim kekuasaan yang ingin menina bobok-kan warga. Pesta dalam maknanya adalah perayaan kegembiraan, sedikit hura-hura dan penuh dengan sajian makanan dan hiburan yang menggugah kenikmatan artifisial.

Lalu, akar yang menghujam itu ternyata sulit dicerabut. Dan setiap lima tahun, kita pun “berpesta” dalam ketidak mengertian apa yang kita inginkan.

Apakah memang kita ingin memilih pemimpin? Sorang yang memegang suluh untuk mengantar kita menuju cahaya hidup yang lebih baik? Jujur saya agak meragukan hal itu.

Karena yang kita saksikan adalah ‘brutal’-nya persaingan yang bahkan memamah biak politik menghalalkan segala cara untuk meraup kekuasaan.

Lalu apakah kita memang, di zaman ini bisa melahirkan pemimpin? Atau hanya sekadar penguasa yang kemaruk akan berbagai privelege dan fasilitas untuk tujuan yang lebih sempit? Kekuasaan adalah jalan menuju kemasyuran, kekayaan dengan mengikat janji dengan Mephistopeles -iblis dalam lakon Dr Fausts karya Gothee.

Barangkali kita agak berlebihan dalam mencerna fenomena ini. Kita mungkin terlalu jauh berada di ‘dataran tinggi’-nya Nietzsche

Tapi bagaimana pun, di sebuah era di mana kekayaan, kemasyhuran dan keserakahan diletakkan sebagai klausula pilihan “hidup atau mati”, “ada atau tiada”, “dipuja atau dipencundangi”, peristiwa Pilkada memang nyaris seperti ajang ekstasi untuk menjadi satu-satunya berada di puncak. Mengutip kata budayawan Rahman Arge dalam puisi Permainan Kekuasaan: “karena kursi hanya satu/aku duduk di kursi/ kamu di tiang gantungan. [Redaksi]